27
Mar
10

Belajar Ikhlas Di Pintu ATM

Suatu hari, sepulang saya dari kuliah, saya menyempatkan diri untuk mengecek saldo tabungan saya di ATM. Dari kejauhan saya bisa melihat seorang ibu memegang belasan amplop kecil sedang berdiri di depan pintu deretan ATM. Wajahnya menampakkan kelelahan, mungkin sudah berdiri di situ dari pagi. Tapi senyumnya tak pernah hilang, setidaknya ketika bertatap mata dengan orang di depannya.

Dengan sopan beliau memberikan amplop yang dipegangnya kepada setiap orang yang hendak masuk ke ruang ATM. Beberapa menerima, namun ada juga yang menolak. Dan dari sekian orang yang menerima pun, tidak sedikit yang meninggalkan amplopnya di dalam ruang ATM seakan enggan meski hanya untuk mengembalikan amplop kosong.

Sekarang giliran saya untuk masuk ke ruang ATM, jarak saya dengan ibu itu sekitar 2,5 meter, tapi saya tidak tahu kenapa ibu tidak menyodorkan amplopnya pada saya.

Saya masuk ke ruang ATM dan melihat dua amplop kosong milik ibu itu, satu tergeletak di lantai dengan bekas injakan kaki seseorang, satu lagi ada di samping ATM. Setelah saya menyelesaikan urusan saya dengan ‘sang’ ATM, saya memungut dua amplop tersebut dan membaca tulisan yang ditempel di permukaannya. Amplop itu berasal dari Solo, dari sebuah panti asuhan yang mengirim beberapa relawannya ke Bandung untuk menyediakan fasilitas bagi mereka yang mampu agar dapat membantu orang-orang yang membutuhkan.

Sebagian orang mungkin akan memandang sinis karena tidak sedikit orang yang memanfaatkan belas kasihan orang lain untuk hal yang tidak layak. Tapi alangkah baiknya jika untuk sementara kita menghilangkan su’udzon itu, menghilangkan prasangka buruk itu. Kita memang harus waspada tetapi bukan berarti menyamakan semua orang yang menyodorkan amplop kepada kita adalah penipu.

Setelah keluar dari ruang ATM, saya memberikan dua amplop itu kepada ibu relawan tadi. Beliau tersenyum dan dengan ekspresi kegembiraan berkata, “Terima kasih ya, mas”. Leganya. Apa lagi yang kita harapkan selain keridhoan Allah, yang biasanya melalui mereka yang kita bantu dan yang kita beri manfaat.

Saya bertanya pada ibu relawan, “Bu, dari mana?”
“Saya dari jawa, mas”
“Oh iya, saya juga, biasanya ibu di sini dari jam berapa sampe jam berapa?”
“Biasanya sih dari jam sembilan sampe jam lima, tergantung mas”
“Apa tidak capek?”
“Ya pasti capek mas, tapi kalau ikhlas insya Allah tidak apa-apa”

Sore itu saya belajar dari ibu relawan.

Ikhlas. Akan menjadikan seseorang mencintai apa yang dikerjakannya. Adalah kunci agar semua amal kita menjadi manfaat. Agar Allah ridho menurunkan berkahnya bagi kita.

2 Responses to “Belajar Ikhlas Di Pintu ATM”


  1. 1 shera
    March 30, 2010 at 10:41 am

    teach me ney..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Quotes of The Week

20 April 2010 - 26 April 2010

Imam Ahmad bin Hambal ditanya, "Kapan seorang hamba bisa istirahat?" Beliau menjawab, "Ketika kakinya menginjak syurga."

- Imam Ahmad bin Hambal

Blog Stats

  • 4,164 hits

Featured Image


Mount Fuji in Japan | kiraku.tv
Indahnya Gunung Fuji melatarbelakangi bunga sakura yang sedang bersemi. (Mar 23, 10)

Archives


%d bloggers like this: