01
Apr
10

Baik Hati Tidak Pernah Sia-sia

Kali ini saya menghadirkan sebuah artikel menarik dari koran Kompas hari Selasa tanggal 30 Maret 2010. Artikel ini saya ketik ulang sesuai dengan aslinya agar semua pesan penulisnya tersampaikan dengan baik. Ditulis oleh Abun Sanda, artikel ini menceritakan tentang kisah seorang pengusaha Indonesia yang baik hati, tentang bagaimana perjuangannya membalikkan 180 derajat nasib hidupnya. Mari kita simak.

Baik Hati Tidak Pernah Sia-sia

Seorang usahawan besar Indonesia suatu hari menuturkan sisi-sisi menarik dari kehidupan pribadinya kepada beberapa wartawan di DKI Jakarta. Ayah tiga anak dan kakek 12 cucu ini bertutur bahwa ia tidak pernah membayangkan seujung rambut pun akan menjadi usahawan besar Indonesia. Omzetnya triliunan rupiah dan karyawannya mencapai angka fantastis, 110.000 orang. Produknya populer dan merengkuh lima benua.

Apa kiatnya? Usahawan berusia 67 tahun ini tertawa, tetapi kemudian menyatakan bahwa resepnya sederhana. Ia selalu beribadah dengan ikhlas. Dari ibadah yang konsisten ini, ia belajar untuk selalu “berjalan lurus”. Ia tidak suka berbohong, apalagi menipu atau mengambil hak orang lain. Ia tidak suka minum (minuman keras), tidak gemar berjudi, tidak suka “ngomongin orang”. Ia pun menjalin hubungan tulus dengan siapa saja, tanpa memandang latar belakang orang itu. Asyiknya lagi, ia selalu senang membantu siapapun, tanpa pandang bulu.

Penulis tahu banyak ihwal konglomerat papan atas yang murah hati ini. Sejak berusia belasan tahun, ia sudah dikenal sebagai pribadi menyenangkan, hangat, setia kawan. Ketika itu ia masih amat miskin. Kemeja hanya dua potong, begitu pula celana pendek dan sarung. Ke sekolah ia menggunakan sepatu butut pemberian tetangga. Tidur di dipan yang berbunyi riuh kalau ditiduri.

Kendati hidup susah, ia sudah belajar berbagi. Kalau ia punya dua kue, dan melihat tiga temannya duduk melengut, ia membagi kue itu menjadi empat potong kemudian mengajak mereka makan ramai-rama. Kalau seseorang memberinya dua potong kue manis ketika jam istirahat sekolah, ia akan memegang baik-baik kue itu dan pulang ke rumahnya sambil berlari kencang. Untuk apa berlari sejauh dua kilometer pergi pulang itu? Tidak lain untuk member dua adiknya kue tersebut. Usai serah terima kue itu, ia berlari kembali ke sekolahnya. Masuk kelas dalam keadaan berkeringat tidak ia hiraukan. Tatkala guru menegurnya karena terlambat lima menit masuk ruang kelas, ia memilih diam saja.

Tabiat baik hati, setia kawan dan suka menolong ini berlanjut sampai ia dewasa. Sebagai buruh pabrik gula, tentu upahnya amat kecil. Akan tetapi ia mampu hidup super irit dan memberi 90 persen gajinya untuk ibu dan dua adiknya. Ia rela berjalan kaki ke pabrik gula, yang jaraknya 10 kilometer (pp), agar uangnya tidak terpakai untuk transportasi. Pernah suatu ketika temannya sakit, dan tidak punya uang berobat. Pria ini bekerja lembur di sebuah pabrik tenun di dekat desanya. Uang kerja lembur itu ia persembahkan untuk temannya yang sakit.

Untuk apa semua kebaikan itu? Lelaki itu menyatakan, kebaikan itu tidak pernah sia-sia. “Wong saya suka berteman, apa salahnya berbuat baik kepada siapa saja,” ia berkata sambil tertawa.

Suatu hari, tatkala masih hidup miskin dengan dua anak, di zaman Orde Lama, seorang usahawan yang menjadi sahabat Persiden Soekarno bercakap-cakap dengan dia dalam perjalanan kereta api Bandung-Jakarta. Sahabat Soekarno itu agaknya sangat terkesan pada pribadi pria lulusan SMA ini. Ia menyuruh lelaki ini berhenti sebagai buruh pabrik dan pindah menjadi pegawainya di perusahaan hasil hutan. Pria ini diberi tugas di administrasi keuangan.

Sejak bekerja, administrasi keuangan perusahaan tersebut menjadi sangat tertib, pembukuan rapi, dan tidak ada satupun pegawai berani nilep. Si bos tentu saja sangat happy dengan keadaan ini. Gaji pria itu dinaikkan signifikan. Kariernya naik dari pegawai papan bawah menjadi menengah dan tujuh tahun kemudian menjadi asisten direktur. Pria ini hidup berkecukupan, tetapi tabiatnya yang baik itu tidak pernah luntur. Ia selalu berbagi apapun yang ia miliki.

Suatu ketika, sembilan tahun setelah bekerja di perusahaan tersebut, pria ini diberi modal untuk membuka usaha sendiri di bidang industri ringan. Tak dinyana, rezekinya besar, bisnisnya tumbuh sangat subur. Dari satu pabrik menjadi dua, lalu tiga kemudian belasan pabrik.

Kembali ke pertanyaan awal: apa kiatnya? Ia mengatakan, kebaikan itu, seperti diajarkan kitab suci, selalu tidak pernah sia-sia. Anda berbuat baik, hadilya pasti baik. Anda menanam padi, buahnya pasti padi, bukan jagung. Dari hasil berbuat baik ini, namanya harum dan semua pebisnis senang berbisnis dengan dia. Tidak ada pebisnis yang takut ditipu, atau diakali dengan sejuta muslihat.

Kini bisnis pria gaek ini tidak hanya industri ringan, melainkan merambah ke banyak industri; dari makanan, kertas, perbankan, properti dan ritel. “Hanya karena kasih sayang Allah yang Maha Agung yang bisa membuat saya menjadi seperti sekarang,” ujarnya.

Ia mengajak kaum muda untuk bekerja keras dan tulus. Jangan banyak mengeluh, dan tidak perlu banyak menuntut. Majikan Anda tahu memberi imbalan setimpal. Kalau majikannya lalim, atau majikannya hanya pintar memeras keringat karyawan, pasrah saja. Gusti Allah tidak tidur. Ia sendiri, meski selalu hati-hati karena berlatar belakang orang keuangan, acap berpikir positif terhadap siapapun. Ia tidak mudah menilai seseorang buruk kalau belum mebuktikan orang itu buruk

Kepada anak-anak muda ia ajak untuk melipatgandakan segenap energinya untuk berkarya optimal. Usia muda, katanya adalah segala-galanya. Di usia muda, Anda bisa berbuat luar biasa. Bekerja sepanjang hari, memang meletihkan. Tetapi pada keesokan paginya sudah segar kembali. Berjalan cepat, berlari dan melompat, tidak akan apa-apa. Ini berbeda dengan orang-orang berusia di atas 40 tahun. Letih sungguh gampang menyergap, penyakit ini dan itu rajin datang menghujam. Apalagi ketika usia menginjak era 50-an, 60-an dan 70-an. Rupa-rupa penyakit silih berganti dantang mencoba menggedor pertahanan tubuh. Bekerja keras dikit, kepala pening, tulang terasa dilolosi dari tubuh.

Jadi, kata usahawan sukses ini, rajin dan jujurlah bekerja. Bina hubungan baik dengan siapa saja, jangan pandang bulu.

Image source: blogs.myspace.com, jobs.americansentinel.edu


0 Responses to “Baik Hati Tidak Pernah Sia-sia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Quotes of The Week

20 April 2010 - 26 April 2010

Imam Ahmad bin Hambal ditanya, "Kapan seorang hamba bisa istirahat?" Beliau menjawab, "Ketika kakinya menginjak syurga."

- Imam Ahmad bin Hambal

Blog Stats

  • 4,164 hits

Featured Image


Mount Fuji in Japan | kiraku.tv
Indahnya Gunung Fuji melatarbelakangi bunga sakura yang sedang bersemi. (Mar 23, 10)

Archives


%d bloggers like this: